Laman

Senin, 07 Februari 2011

Guyonan Gusdur 3

20. Santri Dilarang Merokok
“Para santri dilarang keras
merokok!” begitulah aturan yang
berlaku di semua pesantren,
termasuk di pesantren Tambak
Beras asuhan Kiai Fattah, tempat
Gus Dur pernah nyatri. Tapi,
namanya santri, kalau tidak
bengal dan melanggar aturan
rasanya kurang afdhol.
Suatu malam, tutur Gus Dur,
listrik di pesantren itu tiba-tiba
padam. Suasana pun jadi gelap
gulita. Para santri ada yang tidak
peduli, ada yang tidur tapi ada
juga yang terlihat jalan-jalan
mencari udara segar.
Di luar sebuah rumah, ada
seseorang sedang duduk-duduk
santai sambail merokok. Seorang
santri yang kebetulan melintas di
dekatnya terkejut melihat ada
nyala rokok di tengah kegelapan
itu.
“Nyedot, Kang?” sapa si santri
sambil menghampiri “senior”-
nya yang sedang asyik merokok
itu. Langsung saja orang itu
memberikan rokok yang sedang
dihisapnya kepada sang
“ yunior”. Saat dihisap, bara
rokok itu membesar, sehingga si
santri mengenali wajah orang
tadi.
Saking takutnya, santri itu
langsung lari tunggang langgang
sambil membawa rokok
pinjamannya. “Hai, rokokku
jangan dibawa!” teriak Kiai Fatta.
21. Kuli dan Kyai
Rombongan jamaah haji NU dari
Tegal tiba di Bandara King Abdul
Aziz, Jeddah Arab Saudi.
Langsung saja kuli-kuli dari
Yaman berebutan untuk
mengangkut barang-barang
yang mereka bawa. Akibatnya,
dua orang di antara kuli-kuli itu
terlibat percekcokan serius
dalam bahasa Arab.
Melihat itu, rombongan jamaah
haji tersebut spontan merubung
mereka, sambil berucap: Amin,
Amin, Amin!
Gus Dur yang sedang berada di
bandara itu menghampiri
mereka: “Lho kenapa Anda
berkerumun di sini?”
“Mereka terlihat sangat fasih
berdoa, apalagi pakai serban,
mereka itu pasti kyai. ”
22. Sate Babi
Suatu ketika Gus Dur dan
ajudannya terlibat percakapan
serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda
makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi
mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … nggg … babi
mengandung babi tanpa tahu
bapaknya dibuat sate babi!
23. Tak Punya Latar Belakang
Presiden
Mantan Presiden Abdurrahman
Wahid memang unik. Dalam
situasi genting dan sangat
penting pun dia masih sering
meluncurkan joke-joke yang
mencerdaskan.
Seperti yang dituturkan Ketua
Mahkamah Konstitusi Mahfud MD
saat diinterview salah satu
televisi swasta. “Waktu itu saya
hampir menolak penunjukannya
sebagai Menteri Pertahanan.
Alasan saya, karena saya tidak
memiliki latar belakang soal TNI/
Polri atau pertahanan, ” ujar
Mahfud.
Tak dinyana, jawaban Gus Dur
waktu itu tidak kalah cerdiknya.
“ Pak Mahfud harus bisa. Saya
saja menjadi Presiden tidak perlu
memiliki latar belakang presiden
kok, ” ujar Gus Dur santai.
Karuan saja Mahfud MD pun tidak
berkutik. “Gus Dur memang
aneh. Kalau nggak aneh, pasti
nggak akan memilih saya
sebagai Menhan, ” kelakar
Mahfud.
24.Obrolan Presiden
Saking sudah bosannya keliling
dunia, Gus Dur mencari suasana
baru. Saat itu dia mengundang
Presiden Amerika Serikat dan
Perancis terbang bersama Gus
Dur keliling dunia dengan
pesawat kepresidenan RI 1.
Boleh dong, memangnya hanya
AS dan Prancis saja yang punya
pesawat kepresidenan.
Seperti biasa, setiap presiden
selalu ingin memamerkan apa
yang menjadi kebanggaan
negerinya.
Betul dugaan Gus Dur, tidak lama
Presiden Amerika, saat itu, Bill
Clinton, mengeluarkan tangannya
ke luar pesawat. Sesaat
kemudian dia berkata, “Wah kita
sedang berada di atas New
York. ”
“Lho kok bisa tau?” tanya Gus
Dur.
“Ini patung Liberty saya pegang.”
Presiden Prancis Jacques Chirac
tak mau kalah. Dia ikut
mengulurkan tangannya ke luar
pesawat. “Kita sedang berada di
atas Paris,” katanya.
“Wah… kok bisa tau juga?” kata
Gus Dur.
“Itu… menara Eiffelnya, saya bisa
sentuh.”
Gus Dur panas mendengar
kesombongan Clinton dan Chirac.
Kali ini giliran Gus Dur yang
menjulurkan tangannya.
“Wah… kita sedang berada di
atas Tanah Abang,” teriak Gus
Dur.
“Lho kok bisa tau?” tanya Clinton
dan Chirac heran karena tahu
Gus Dur tidak bisa melihat.
“Ini jam tangan saya hilang,”
jawab Gus Dur kalem.
***
25. Gus Dur Diplintir Media
Gus Dur, dalam satu acara
peluncuran biografinya,
menceritakan tentang kebiasan
salah kutip oleh media massa
atas berbagai pernyataan yang
pernah dikeluarkannya.
Dia mencontohkan, ketika
berkunjung ke Sumatera Utara
ditanya soal pernyataan Menteri
Senior Singapura Lee Kuan Yew
tentang gembong teroris di
Indonesia. Gus Dur mengatakan,
pada saatnya nanti dia akan
mengajarkan demokratisasi di
Singapura.
Namun, media massa mengutip
dia akan melakukan demo di
Singapura. Walah-walah … gitu
aja kok repot!
***
26. Doa Mimpi Matematika
Jauh sebelum menjadi presiden,
Gus Dur dikenal sebagai penulis
yang cukup produktif. Hampir
tiap pekan tulisannya muncul di
koran atau majalah. Tema
tulisannya pun beragam, dari
soal politik, sosial, sastra, dan
tentu saja agama.
Dia pernah mengangkat soal
puisi yang ditulis oleh anak-anak
di bawah usia 15 tahun yang
dimuat majalah Zaman.
Kata Gus Dur, anak-anak itu
ternyata lebih jujur dalam
mengungkapkan keinginannya.
Enggak percaya? Gus Dur
membacakan puisi yang dibuat
Zul Irwan
Tuhan …
berikan aku mimpi malam ini
tentang matematika
yang diujikan besok pagi
***
27. Tiga Polisi Jujur
Gus Dur sering terang-terangan
ketika mengkritik. Tidak
terkecuali ketika mengkritik dan
menyindir polisi.
Menurut Gus Dur di negeri ini
hanya ada tiga polisi yang jujur.
“ Pertama, patung polisi. Kedua,
polisi tidur. Ketiga, polisi
Hoegeng (mantan Kapolri
Hoegeng Imam Santoso). ”
Lainnya? Gus Dur hanya
tersenyum
28.Obrolan Hari Jumat
Pernah suatu ketika Gus Dur di
ruang kerjanya di Istana Merdeka
menerima Mohammad Sobary,
peneliti dari LIPI, kolumnis dan
pernah menjadi pemimpin
Kantor Berita Antara dan Djohan
Effendi (Kepala Litbang
Departemen Agama).
Hampir sepanjang hari Gus Dur
berbincang-bincang dengan
kedua sahabatnya tersebut.
Sobary sempat menjadi
moderator ketika berlangsung
dialog antara Gus Dur dengan
masyarakat seusai shalat Jumat
di Masjid Baiturrahim (Masjid
Istana Kepresidenan).
Sobary lantas mengulang cerita
Gus Dur tentang hal lucu yang
terjadi di sekitar Gus Dur selama
masa istirahat. Sebelum shalat
Jumat, Gus Dur dari ruang
kerjanya menelepon Menteri
Agama di kantornya.
Kebetulan yang mengangkat
telepon di kantor Menteri Agama
adalah seorang staf menteri.
Dialognya demikian:
Gus Dur: Hallo, saya mau bicara
dengan Menteri Agama
Staf Departemen Agama: Ini
siapa?
Gus Dur: Saya Abdurrahman
Wahid
Staf Departemen Agama:
Abdurrahman Wahid siapa?
Gus Dur: Presiden……
29.Dua Gus Adalah Musuh Orba
Di kalangan Nahdliyin, Gus adalah
julukan bagi anak kiai yang
mereka hormati . Panggilan
hormat itu tetap melekat, bahkan
sampai si anak sudah jadi bapak
atau kakek . Begitulah, menurut
Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus,
dan lain-lain-anpa menyebut diri
sendiri.
Lain sikap hormat kalangan
Nahdliyin, lain pula pandangan
pemerintah Orde Baru. Yang
terakhir ini tak suka dengan para
Gus itu, terutama yang kritis
terhadap kekuasaan.
Kekritisan Gus Dur terhadap
pemerintah Orde Baru
mengakibatkan ia “dikucilkan.”
Gus Nun sering ngomong pedas,
maka dianggap musuh
pemerintah juga .
Tapi , kata Gus Dur, di acara
jamuan makan malam bersama
tamu-tamunya, sebenarnya ada
satu “Gus” lagi yang tidak disukai
pemerintah .
Para tamu pun penasaran, dan
menunggu Gus siapa lagi
gerangan yang dimaksud .
“Gusmao…,” ungkap Gus Dur
menyebut nama belakang Kay
Rala Xanana (sekarang Presiden
Timor Leste), pemimpin Fretilin
yang saat itu masih di penjara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar