Laman

Kamis, 08 September 2011

Kisah Cinta Seorang Pemuda

Remang cahaya kemerahan lampu jalan membantuku melihat senyumanmu malam ini. senyuman tulus,masih sama seperti dulu. Aku ingat di sudut matamu ada tiga garis berkerut, dua lubang bak lesung di pipimu,dan beberapa lubang- lubang kecil di pinggir bibirmu yang akan terlihat kala kau mengulas senyuman. Aku menyukainya dan selalu akan menyukainya.

Kerinduan ini tak terperi, dan aku bersyukur saat bisa melihatmu walau hanya sekejap saat aku duduk di teras rumah memandang gemerlap bintang di langit. Kau tahu ? semalam kutitipkan salamku pada malam, apakah dia menyampaikannya padamu sebelum pagi menjemput? Salam akan kerinduan dan hatiku yang menghangat saat aku mengingatmu.

Rasa ini memang tidak wajar, mencintai sosok wanita yg baru dikenal. Tetapi bisakah kita memilih kepada siapa kita harus jatuh cinta? Rasa itu terlalu murni, terlalu suci untuk diperdaya. Cinta sebuah kekuatan digdaya dimana muslihat apapun bisa ditelikung olehnya. Dan itulah yang kutakutkan terjadi padaku kini, aku jatuh cinta padamu dengan rasa yang lebih dalam dari sebelumnya.

Aku sudah membaca tulisan yang kau tujukan untukku. Tentang hidupmu yang tak pernah kuketahui sampai waktu seperti medan magnet yang menarik kita berteduh di bawah atap yang sama. terlalu curam dan berliku jalan yang harus ditempuh hingga akhirnya kita bertemu lagi dan ironisnya mengakui rasa serupa. Kau bilang mencintaiku dan getar memenuhi satu sudut di dadaku kala mendengar kau mengucapnya.

Aku terhenyak mengetahui hatimu telah lama luka nyaris bernanah. Siapa yang begitu tega menyakiti orang sepertimu, aku sungguh geram. Kurelakan kau untuknya bukan untuk disakiti, tetapi karena aku mengira dialah satu- satunya pendamping paling ideal berjalan di sisimu. dan kutemukan dirimu ketakutan, menerima disakiti karena tak mampu menyakiti…aku meringis karena hatiku berdarah..

Sheila, di ujung jalan ini aku selalu menanti kedatanganmu. Seperti bertahun- tahun yang lampau kau datang menemuiku. Menawarkan cinta yang kau kira kubiarkan terlantar di pinggir jalan, padahal sesungguhnya tidak demikian adanya. Aku juga tak menyadari bahwa bara cinta itu masih menyala dalam perapian hati. Tak ada yang bisa memprediksi apakah kehadiranmu kembali membuat bara itu akan mati atau malah berubah menjadi api. Aku mulai pasrah saat jejaring takdir kembali mempermainkan kita.

Malam ini detak jantungku berdegup lebih kencang, hanya karena aku melihatmu melintas di ujung jalan, tempat yang sama dimana aku selalu berharap mataku bisa menangkap sosokmu. Tulisan ini bisa dibilang balasan atas tanyamu tentang hidupku. Aku ingin memberikannya padamu namun aku tak tahu bagaimana caranya. Ya..sama seperti dulu, aku terlalu kekurangan akses untuk bicara padamu tentang perasaanku. Biarlah secarik kertas berisi rentetan kata ini kuselipkan dibawah bantalku saja. sambil berdoa di alam mimpi yang tak menganut norma aku bisa leluasa bercerita kepadamu dan kalau kau izinkan aku ingin sekali memelukmu.

Sheila…inilah aku Ray. Pria yang selalu membayangkan dirimu disela keseharian ku

....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar