Laman

Kamis, 24 Februari 2011

Malam itu

renungkan wahai pujangga-
malam yang menggebu
malam yang kobar
malam yang mennyusuri sungai-sungai kering

hanya burung hantu berkukuk
pada ranting rapuh
rembulan mencipta bayangan
penuh pada danau, danau
yang mati

Mungkin, angsa-angsa itu
menggelepar
bersoang-soang
setengah mati
seperti arwah gentayangan
menyusuri bangkai kota

Dhuh!
malam sungguh rapuh
melepuh
seperti kaki bidadari yang
lumpuh

karena terlalu lama
menggunakan sayapnya
hinggap pada bintang
saat malam yang tak berujung
seperti hari yang terus berlalu,
jenuh

adakah sesuatu yang lain?
sesuatu yang mesti
dipertimbangkan
mungkin kita mesti bersemedi
dalam malam
melukiskan gelap
dengan renda bayang-bayang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar