Laman

Jumat, 16 September 2011

Tujuh Golongan yang Dilindungi Allah

“Ada 7 golongan atau kelompok orang yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya (Yaumul Hisab). Mereka adalah (1) pemimpin yang adil, (2) anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, (3) seseorang yang hatinya selalu dipertautkan dengan mesjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, (5) seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”, (6) seseorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan (7) seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi lalu ia menangis (HR. Bukhari & Muslim).

1. Pemimpin yang Adil.

Yaitu pemimpin yang tidak zhalim (aniaya) terhadap yang dipimpinnya. Ia menjalankan tugas, amanah, dengan baik. Pemimpin yang mengacu kepada ajaran Islam dalam menangani berbagai masalah, dipastikan akan bertindak adil, karena ajaran Islam pasti adil dan sesuai dengan fitrah manusia.

Dalam hadits lain disebutkan, ”Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah ta’ala pada hari kiamat dan tempat duduk mereka dekat dengan-Nya adalah imam (pemimpin) yang adil” (HR. Tirmdizi).

Pemimpin yang mengingkari hukum Allah, korup, hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, hanya mencari kekayaan dengan jabatannya, mengabaikan kesusahan rakyat, tidak mau mendengar aspirasi umat, dipastikan tidak akan mendapatkan perlindungan Allah karena ia telah berbuat zhalim.

2. Pemuda yang Rajin Beribadah.

Yaitu pemuda atau remaja yang mampu mengendalikan ”darah mudanya” yang selalu merasa gagah, mau menang sendiri, tidak berpikir panjang, dan tidak banyak perhitungan dan pertimbangan dalam bertindak. Ia tidak mengikuti hawa nafsu dan gejolak jiwa mudanya yang negatif, melainkan justru memanfaatkan energi mudanya yang meluap-luap untuk rajin beribadah kepada Allah Swt. Bukannya berhura-hura, pemuda yang mendapat lindungan Allah ini justru khyusu beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, menjadi aktivis masjid, aktivis rohis, dan sebagainya demi amal saleh dan syiar Islam.

Allah mengabadikan anak-anak muda beriman, Ashabul Kahfi, yang tegar menghadapi ujian dan godaan: ”Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS Al Kahfi [18]:13).

3. Orang yang Terikat dengan Masjid.

Masjid adalah rumah Allah (baitullah). Sangat masuk akal, mengapa pecinta masjid, gemar ke masjid, rajin ke rumah Allah itu untuk beribadah, akan dilindungi-Nya di akhirat nanti. Bahkan, menurut Nabi Saw, salah satu tanda kesungguhan iman adalah biasa ke masjid.

”Apabila kamu sekalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman” (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id Al Khudri).”

Orang yang terikat dengan masjid juga gemar memakmurkan masjid. Allah SWT menyebutkan, orang yang mau dan mampu memakmurkan masjid dengan aktivitas ibadah dan dakwah, hanyalah yang beriman.

”Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian, serta (tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun), kecuali kepada Allah. Maka, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Attaubah [9]: 18).

4. Orang yang Cinta karena Allah.

Yaitu orang yang mendasarkan cintanya kepada seseorang/sesuatu, semata-mata karena Allah SWT. Ia akan mencintai sesuatu karena Allah mencintainya; ia pun akan membenci sesuatu karena sesuatu itu dibenci Allah. Ia tidak akan menyukai yang dibenci Allah dan tidak akan membenci yang disukai Allah.

”Paling kuat tali hubungan keimanan adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah” (HR. Thabrani).

“Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi wala’ karena Allah dan memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya dapat diperoleh kewalian Allah hanya dengan itu. Dan seorang hamba itu tidak akan merasakan lezatnya iman, sekali pun banyak shalat dan puasanya, sehingga ia melakukan hal tersebut. Dan telah menjadi umum persaudaraan manusia berdasarkan kepentingan duniawi, yang demikian itu tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi para pelakunya.” (HR. Thabrani).

Dalam tauhid ada konsep al-Wala wal-Bara. Wala’ artinya dekat, yakni dekat kepada sesama Muslim dengan mencintai, membantu, dan saling menolong. Al-Bara’ berarti memutus atau memotong, yaitu memutus ”ikatan hati” dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai mereka, membantu, dan menolong mereka, utamanya kafir harbi (non-Muslim yang memerangi Islam).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia …” (Al-Mumtahanah: 1)

5. Orang yang Selalu Berdzikir.

Dzikir adalah mengingat Allah sehingga ingat pula perintah dan larangan-Nya. Ia tidak akan pernah lupa kepada-Nya sehingga senantiasa berpikir dan bersikap sesuai dengan perintah-Nya. Ia akan selalu ingat nikmat yang diberikan-Nya sehingga selalu bersyukur, juga tidak akan lupa ancaman siksa-Nya sehingga ia tidak berbuat maksiat atau hal yang membuat Allah murka kepadanya.

6. Orang Ikhlas Bersedekah.

Yaitu orang yang gemar bersedekah, berinfak, membantu dan menyenangkan orang lain, dan amal saleh atau ibadah dengan ikhlas, tanpa sedikit pun ada keinginan dipuji orang (riya’), apalagi pamer atau ”show off” untuk mendapatkan puja-puji dan simpati. Orang yang ikhlas bahkan tidak mungkin dikalahkan oleh godaan setan. Iblis takkan mampu menggoda orang ikhlas.

”Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka” (QS Al Hijr [15]:39-40).

Lagipula, Allah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beramal.

“Padahal, tidaklah mereka disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5).

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan dilakukan demi mengharap wajah-Nya.” (HR. Nasa’i).

7. Orang yang Menjauhi Zina.

Zina itu dosa besar. Ia perbuatan tercela dan sangat hina. Pelakunya, dalam sayriat Islam, harus dirajam.

”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman (QS An Nur [24]:2).

Godaan zina sangat kuat, apalagi dengan maraknya prostitusi dan pornografi. Maka, orang yang menjauhi zina, artinya ia mampu menjaga kehormatan dirinya sehingga Allah akan memberikan perlindungan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Berdoa Dan Berusaha

Ibnu Abbas berkata pada suatu hari ia duduk di belakang Rasulullah SAW di atas suatu kendaraan. Rasulullah memberinya nasihat, ''Wahai pemuda, saya akan mengajarkan beberapa kalimat (keterangan). Yaitu: peliharalah Allah (pelihara segala perintah dan larangan-Nya), niscaya Allah akan memeliharamu.

Jika kamu tetap memelihara-Nya, tentulah kamu akan tetap mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Ia akan mengenalimu di waktu susah. Bila kamu memohon sesuatu hajat, bermohonlah (langsung) kepada Allah.'' Rasulullah melanjutkan, ''Ketahuilah, walaupun berkumpul seluruh manusia untuk mendatangkan suatu kemanfaatan untukmu, tiadalah mereka dapat berbuat apa-apa, kecuali sekadar yang Allah telah tetapkan kamu memperolehnya.

Dan, walaupun berkumpul seluruh manusia untuk mendatangkan suatu kemudharatan kepadamu, tiadalah mereka dapat berbuat apa-apa, melainkan hanya sekadar yang Allah telah tetapkan jua. Telah diangkat kalam dan telah kering segala lembaran tulisan. Ketahuilah, pertolongan Allah hanya diberikan kepada orang yang sabar, dan bahwa kelapangan diberikan kepada orang yang dalam kesusahan.'' (HR Turmudzi).

Doa merupakan sumber kekuatan dan harapan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Prof Affiff At Tabbarah dalam Ruhud Dienul Islam menyatakan berdoa merupakan fitrah dan naluri yang tumbuh dalam diri setiap manusia. Setiap orang senantiasa ingat dan rindu kepada Tuhan yang akan memberikan perlindungan kepadanya di waktu kesulitan atau untuk menghindarkan sesuatu kejahatan. Berhadapan dengan peristiwa-peristiwa kehidupan ini, manusia sangat lemah.

Tidak ada sandaran bagi kelemahannya itu, kecuali doa. Allah SWT berfirman, ''Berdoalah kepada-Ku, akan Kupenuhi (doamu).'' (Al-Mukmin: 60). Rasulullah banyak menjelaskan kedudukan doa. Kata beliau, ''Doa itu adalah otak ibadah.'' (HR Turmudzi). Dalam hadis yang lain, beliau menjelaskan, ''Doa itu mendatangkan manfaat atas sesuatu yang sudah atau yang belum diturunkan Allah. Tak ada yang dapat menolak qadha (ketetapan Ilahi) kecuali doa yang mustajab (terkabul).'' (HR Turmudzi).

Islam mengajarkan pentingnya doa di samping ikhtiar. Doa bukanlah pengganti usaha dan ikhtiar, tapi memperkuat usaha dan ikhtiar. Doa satu-satunya kekuatan dan harapan orang beriman tatkala segala ikhtiar telah dijalankan. Semua peristiwa di alam ini tidaklah diserahkan begitu saja kepada hukum-hukum alam seperti mesin yang bergerak otomatis, tetapi di balik hukum-hukum itu ada hukum lain yaitu iradah Allah yang Maha Menentukan.

''Kulihat tangan (kekuasaan) Allah ada dalam setiap peristiwa dan segala masalah,'' kata Sayid Quthub dalam pengantar tafsir Fi Zhilalil Quran. Setiap orang menginginkan doanya terkabul. Syarat terkabulnya doa ialah hati yang ikhlas. Pada akhirnya Allah yang menentukan saat terbaik bagi hamba-Nya untuk menerima apa yang dimohonkan. Doa dari hati yang ikhlas tidak akan disia-siakan Allah asal menempuh jalan hidup yang benar.(M Fuad Nasar)

Hidup Hanya Sementara

Manusia tinggal di dunia hanya untuk waktu yang singkat. Di sini, ia akan diuji, dilatih, kemudian meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat di mana ia akan tinggal selamanya. Harta benda serta kesenangan di dunia, walaupun diciptakan serupa dengan yang ada di akhirat, sebenarnya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan karena harta benda dan kesenangan tersebut ditujukan hanya agar manusia mengingat hari akhirat.

Akan tetapi, orang yang ingkar tidak akan mampu memahami kenyataan ini sehingga mereka berperilaku seakan-akan segala sesuatu di dunia ini miliknya. Hal ini memperdaya mereka karena semua kesenangan di dunia ini bersifat sementara dan tidak sempurna, tidak mampu memuaskan manusia yang diciptakan untuk keindahan kesempurnaan abadi, yaitu Allah. Allah menjelaskan betapa dunia merupakan tempat sementara yang penuh dengan kekurangan,

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.�? (al-Hadiid: 20)

Seperti yang tertulis dalam Al-Qur`an, orang-orang musyrik hidup hanya untuk beberapa tujuan, seperti kekayaan, anak-anak, dan berbangga-bangga di antara mereka. Dalam ayat lain, dijelaskan tentang hal-hal yang melenakan di dunia,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?' Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.�? (Ali Imran: 14-15)

Sebenarnya, kehidupan di dunia tidak sempurna dan tidak berharga dibandingkan kehidupan abadi di akhirat. Untuk menggambarkan hal ini, dalam bahasa Arab, dunia mempunyai konotasi “tempat yang sempit, gaduh dan kotor�?. Manusia menganggap usia 60-70 tahun di dunia sangat panjang dan memuaskan. Akan tetapi, tiba-tiba kematian datang dan semua terkubur di liang lahad. Sebenarnya, ketika kematian mendekat, baru disadari betapa singkatnya waktu di dunia. Pada hari dibangkitkan, Allah akan bertanya kepada manusia.

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.' Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?�? ( al-Mu'minuun: 112-115)

Mengabaikan Allah dan tidak mengacuhkan kehidupan akhirat, sepanjang hidup mengejar keserakahan dunia, berarti hukuman abadi di dalam api neraka. Orang-orang yang berada di jalan ini digambarkan Al-Qur`an sebagai “orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat�? . Bagi mereka, Allah memutuskan, “Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.�? (al-Baqarah: 86)

“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.�? (Yunus: 7-8)

Bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Allah akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur`an menggambarkan keadaan orang yang demikian,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).�? (an-Naazi'aat: 37-39)