Laman

Senin, 05 September 2011

CINTA ITU FITRAH . .

Cinta itu fitrah. Begitulah Islam mengajarkan. Menarik sekali memang berbincang soal fitrahnya manusia yang satu ini. Fitrah, tentu dapat membawa pemiliknya menuju kemuliaan, kebahagiaan, dan ketinggian nilai saat terpenuhi. Atau menjadikan sang empunya terlihat lebih tenang saat bersama fitrah tersebut, karena ia sesungguhnya merupakan sifat asal, bakal atau pembawaan yang oleh "Orang Kulon" disebut basic instinc. Dengannya manusia berkelakuan lebih terarah karena sedang menjalani hal yang sesuai dengan kebutuhan dasarnya. Tetapi tanpanya, manusia hidup dalam kekacauan, kegalauan, kecemasan, bahkan sampai titik terendah dalam hidupnya, yaitu kehinaan dan kerendahan akhlak. Dan satu-satunya Dien yang sesuai dengan fitrah itu pastilah Islam.
Namun sayang beribu sayang, fitrah yang begitu suci keberadaannya kini mengalami erosi makna. Pandangan sebagian orang tentang fitrah itu kian menyimpang dari makna asalnya. Ada beragam tipuan, godaan, rayuan, bahkan fitnah yang menerjang kata itu. Demi mengatasanamakan fitrah banyak manusia yang menghalalkan segala cara untuk melakukan perbuatan tercela. Lihat saja dipinggir-pinggir jalan atau di taman-taman rekreasi, puluhan pasang muda mudi terlihat asyik terlibat "Asmara Buta" tanpa menghiraukan norma dan susila. "Itu kan manusiawi mas!!!" Begitulah rata-rata jawaban mereka. Fenomena tersebut hampir menjadi kebiasaan umum remaja kita saat ini. Sebuah suplemen(Polling) harian nasional Surabaya mempertegas hal yang demikian, menampilkan kehidupan kaum metropolis yang hidup "Just For Syahwat".
Bagaimana dengan kaum muda aktivis islam??? Tentunya mereka demikian paham membedakan antara fitrah dan hawa nafsu, walaupun tidak ada jaminan bahwa mereka akan begitu saja terbebas dari fitnah tersebut. Aktivis Islam bisa saja tiba-tiba menjadi orang yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang perbedaan keduanya saat berhadapan dengan realitas dilapangan.
Bgaiamanakah menurut anda jika adas eorang aktivis yang sangat gigih "Mengejar Cinta" seorang aktivis lawan jenisnya? Sementara sang aktivis tidak tegas menyatakan sikapnya (tidak segera menjaga kesucian diri dan hatinya). Hal itu menjadikan sang aktivis makin penasaran dan hatinya terbuai angan setan. Pendekatan yang dilakukan pun beragam, mulai dari berlama-lamaan telepon, surat yang panjang lebar, hingga bicara empat mata ditempat relatif aman. Sehingga tersebarlah berita "Percintaan" itu dikalangan masyarakat luas, yang barangkali menurut mereka adalah sesuatu hal yang biasa.
Lho, memangnya kenapa? Wajara kan? Toh seorang aktivis juga bagian dari manusia yang membutuhkan pendampig hidup?? Bukankah itu fitrah? Pertanyaan itu mungkin muncul dibenak Anda. Tetapi apakah yang dilakukan aktivis tersebut benar-benar atas dasar fitrah (Sesuai dengan ISlam?) Atau justru hanya hawa nafsu belaka???
Saya ingatkan kembali bahwa fitrah seharusnya tidak membawa seseorang kepada kehinaan perilaku apalagi kerendahan akhlak. Sungguh kita bersimpati terhadap aktivis yang begitu gigih menjaga kesucian dirinya, demikian bersemangat memerangi akhlak jahiliyah dan senantias mengajak orang lain untuk meneladani Rasulullah SAW sampai Allah mendatangkan baginya pendamping hidup yang menyejukkan mata. Adapun aktivis yang justru perbuatannya menumpuk dosa dengan bungkus kata fitrah lebih baik mereka menta ulang niatnya dalam berjuang dan mencari pendamping hidup, agar kelak tidak ditanyakan oleh sang ustadz dan orang-orang mukmin di sekelilingnya, "How Low Will You Go? (Seberapa hina ingin kau capai?). Saudaraku sungguh mulia orang yang menjaga kesucian hati dan dirinya ditengah kemaksiatan yang merajalela.
Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku beLajar mencintaiMu
Lembar demi lembar kitab ku pelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan
Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu,
Semampuku
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu
Sebisaku
Dengan segala kelemahanku
Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabii, Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya Atau layaknya Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang