Laman

Selasa, 24 Mei 2011

Kisah 4 Orang Dermawan

Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), selama ini dikenal
sebagai kota seribu masjid, seolah mau menandingi Bali
sebagai pulau dewata dengan seribu pura.

Pembanguan masjid
di Mataram memang banayak disumbang baik kalangan kaya
maupun rakyat biasa, biarpun rumah gubuk, yang penting mesjidnya megah, itu moto mereka.

Pada suatu hari di sebuah daerah di kota Mataram dibangun sebuah masjid besar,
biayanya ditanggung oleh empat pengusaha besar kota itu, yaitu H. Ibrahim, H. Musa, H. Salam dan
H Yahya, mereka itu sebenarnya bukan muslim yang taat, bahkan predikat haji baru saja mereka
peroleh.

Ketika mesjid sudah jadi, segera diresmikan, tidak lupa keempat nama dermawan tadi disebut-sebut jasanya, baik oleh pak Kiai
sebagai pengelola masjid maupun oleh Bupati, sebagai
kepala daerah. Setelah upacara peresmian selesai dengan
dibacakan doa dan bacaan selawat yang selelu dialunkan
sepanjang upacara, lalu terakhir
diselenggarakan sembahyang Isyak untuk pertama kalinya.

Dalam sembahyang Isyak itu kiai membaca surat al quran yang agak panjang yakni surat Tasbih, yang diujung ayat yang dibaca
kiai itu berbunyi : shuhufi Ibrahima wa Musa, mendengar
bacan itu Yahya yang tak tahu arti ayat itu heran kok nama
penyumbang lain H Ibrahim dan H. Musa disebut, padahal saya
juga penyumbang besar masak namaku dan H Salam tidak
dilaporkan sang imam pada Tuhan dalam salatnya. Tiba-tiba terdengar suara makmum serentak menyahut alaihis
salaam. Lho H Salam giliran disebut sementara saya tidak
kalau begini caranya amal saya bisa tidak diketahui oleh Tuhan,
bahaya ini gumamnya dalam hati.

Karena itu ia buru-buru nenambahkan dengan bersuara
keras, juga Yahyaa..
Saat itu para jamaah pada heran ada orang yang berani bicara
dalam sembahyang, tetapi mereka diam, sementara jamaah
yang ada didekatnya tidak bisa menahan diri, tertawa cekikikan,
akhirnya mundur membatalkan
sembahyang, tidak tahan melihat
kedunguuan H Yahya. Baru setelah solat selesai jamaah
heboh, hingga akhirnya sang imam menjelaskan bunyi surat Tasbih memang begitu, sama sekali bukan untuk melupakan
jasa Pak Yahnya, jelas sang Imam.
Ooo begitu to maksudnya,
habis saya khawatir amal saya tidak diterima Allah jawabnya sambil tersipu-sipu.