Laman

Jumat, 25 Februari 2011

Qur'an Surat An nur Ayat.26

ﺍَﻟْﺨـَﺒِﻴـْﺜــﺎَﺕُ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴْﺜـِﻴْﻦَ
ﻭَ ﺍْﻟﺨَﺒِﻴْﺜُــﻮْﻥَ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴْﺜﺎَﺕِ
ﻭَ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒِﻴْﻦَ ﻭَ
ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒُﻮْﻥَ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕِ .
“ Wanita-wanita yang tidak baik
untuk laki-laki yang tidak baik,
dan laki-laki yang tidak baik
adalah untuk wanita yang tidak
baik pula. Wanita yang .baik
untuk lelaki yang baik dan lelaki
yang baik untuk wanita yang
baik. (Qs. An Nur:26)
Beberapa waktu yang lalu saya
mendapatkan SMS tausiyah yang
berisi ayat diatas yaitu surat An-
nur ayat 26.Lalu ada seorang
teman yang menanyakan, apakah
benar isi ayat ini? Apakah mesti
“otomatis” wanita yang tidak
baik untuk laki-laki yang tidak
baik juga?Bagaimana Seandainya
dalam kehidupan nyata ada
seorang pria yang baik dan dia
mendapatkan wanita yang tidak
baik?Apakah ayat Al Quran diatas
salah?
Pertanyaan seperti itu
sebenarnya menjadi pertanyaan
saya juga dari dulu dan saya
mencoba memahami apa yang
saya pahami dari ayat tersebut.
Al Quran sebagai Petunjuk
Umat Islam diseluruh dunia
meyakini bahwa Quran itu
firman Allah.Artinya apa yang
dikatakan Allah dalam Quran
dipastikan benar.Tuhan memberi
tahu kepada kita bagaimana cara
kita mengenalnya dengan
diutusnya nabi.Sebab akal
manusia tidak akan sampai
untuk mengenal siapa
Tuhannya,oleh karena itu Tuhan
memberi petunjuk.Petunjuk jalan
yang lurus agar dapat
mengenalnya.Dalam memahami
petunjuknya berupa
firmanNya,terdapat keterbatasan
diri kita,sehingga firman Tuhan
yang sudah pasti benar,bisa saja
menjadi salah dengan
pemahaman kita.
Karena apa yang dimaksud baik-
salah itu adalah menurut Tuhan.
Standar baik-buruk itu tentu saja
sudah ditentukan oleh
Tuhan.Bahkan kata baik-buruk
itu ada karena adanya agama.
Artinya apa?
Jika kita menilai sesuatu itu baik-
buruk tentu saja berdasarkan
kepada ajaran agama.Karena
tidak logis jika kita menilai
sesuatu itu baik/buruk hanya
berdasarkan pemikiran
sendiri,karena premis baik atau
tidak baik itu muncul dari adanya
Tuhan.Tuhan yang menentukan
standar ini baik dan ini
buruk.Sangat tidak rasional jika
hanya menentukan baik/buruk
hanya menurut kita karena
premis yang digunakan kita
ketahui dari Tuhan,sehingga
dalam memahami ayat yang
diturunkan Tuhan (Kauliah) atau
ketetapan yang terjadi di bumi
secara logis dapat kita katakan
bahwa Allahlah yang mengetahui
sesuatu itu baik atau tidak.
AnNur ayat 26
”Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji dan laki-
laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah
untuk wanita-wanita yang baik
(pula). Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan
oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rizki
yang mulia (surga). ”
Berangkat dari pemahaman
diatas,tentu saja kita bertanya-
tanya apakah yang dimaksud
baik disini?Atau keji? Apakah kita
dapat menentukan sesuatu itu
baik atau tidak baik?Kalau kita
cermati ayat diatas merupakan
satu paket ayat yang
bersambung ,tidak hanya putus
pada kalimat “untuk wanita yang
baik”tetapi masih berlanjut
dengan bahasan tuduhan , juga
ampunan.Artinya ayat ini
sebenarnya diturunkan dalam
konteks tertentu.Coba kita lihat
konteks ayat ini turun
Ayat ini diturunkan untuk
menunjukkan kesucian ‘Aisyah
r.a. dan Shafwan bin al-Mu’attal
r.a. dari segala tuduhan yang
ditujukan kepada mereka.
Pernah suatu ketika dalam suatu
perjalanan kembali dari ekspedisi
penaklukan Bani Musthaliq,
‘ Aisyah terpisah tanpa sengaja
dari rombongan karena mencari
kalungnya yang hilang dan
kemudian diantarkan pulang
oleh Shafwan yang juga
tertinggal dari rombongan
karena ada suatu keperluan.
Kemudian ‘Aisyah naik ke
untanya dan dikawal oleh
Shafwan menyusul rombongan
Rasullullah SAW. dan para
shahabat, akan tetapi
rombongan tidak tersusul dan
akhirnya mereka sampai di
Madinah. Peristiwa ini akhirnya
menjadi fitnah dikalangan umat
muslim kala itu karena terhasut
oleh isu dari golongan Yahudi
dan munafik jika telah terjadi
apa-apa antara ‘Aisyah dan
Shafwan.
Masalah menjadi sangat pelik
karena sempat terjadi
perpecahan diantara kaum
muslimin yang pro dan kontra
atas isu tersebut. Sikap Nabi juga
berubah terhadap ‘Aisyah, beliau
menyuruh ‘Aisyah untuk segera
bertaubat. Sementara ‘Aisyah
tidak mau bertaubat karena tidak
pernah melakukan dosa yang
dituduhkan kepadanya, ia hanya
menangis dan berdoa kepada
Allah agar menunjukkan yang
sebenarnya terjadi. Kemudian
Allah menurunkan ayat ini yang
juga satu paket annur 11-26.

Penjelasan Para Ulama tentang Qs.An nur Ayat.26

Penjelasan An Nur 26 menurut
para ulama
jika dilihat dari konteks ayat ini,
ada dua penafsiran para ulama
terhadap ayat ini yaitu tentang
arti kata “wanita yang baik” dan
juga “ucapan yang
baik”Sehingga dapat juga
diartikan sebagai begini
Perkara-perkara (ucapan)yang
kotor adalah dari orang-orang
yang kotor, dan orang-orang
yang kotor adalah untuk
perkara-perkara yang kotor.
Sedang perkara (ucapan)yang
baik adalah dari orang baik-baik,
dan orang baik-baik
menimbulkan perkara yang baik
pula. Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan
oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rizki
yang mulia (surga). ”
Kata khabiitsat biasa dipakai
untuk makna ucapan yang kotor
(keji) ,juga kata thayyibaat dalam
Quran diartikan sebagai kalimat
yang baik.Begitupun pada ayat
ini berlaku bahwa kata khabiitsat
dan thayyibaat
Hakam ibnu Utaibah yang
menceritakan, bahwa ketika
orang-orang mempergunjingkan
perihal Siti Aisyah r.a. Rasulullan
saw. menyuruh seseorang
mendatangi Siti Aisyah r.a.
Utusan itu mengatakan, “Hai
Aisyah! Apakah yang sedang
dibicarakan oleh orang-orang
itu ?” Siti Aisyah r.a. menjawab,
“Aku tidak akan mengemukakan
suatu alasan pun hingga turun
alasanku dari langit ”. Maka Allah
menurunkan firman-Nya
sebanyak lima belas ayat di
dalam surah An Nur mengenai
diri Siti Aisyah r.a. Selanjutnya
Hakam ibnu Utaiban
membacakannya hingga sampai
dengan firman-Nya, “Ucapan-
ucapan yang keji adalah dari
orang-orang yang keji.. ” (Q.S. An
Nur,26). Hadis ini berpredikat
Mursal dan sanadnya sahih.
Ayat 26 inilah penutup dari ayat
wahyu membersihkan isteri Nabi,
Aisyah dari tuduhan keji itu. Di
dalam ayat ini diberikan
pedoman hidup bagi setiap
orang yang beriman. Tuduhan
keji adalah perbuatan yang amat
keji hanya akan timbul daripada
orang yang keji pula.Memang
orang-¬orang yang kotorlah
yang menimbulkan perbuatan
kotor. Adapun ucapan-ucapan
yang baik adalah keluar dari
orang-orang yang baik pula, dan
memang¬lah orang baik yang
sanggup menciptakan perkara
baik. Orang kotor tidak
menghasilkan yang bersih, dan
orang baik tidaklah akan
menghasilkan yang kotor,dan ini
berlaku secara umum
Di akhir ayat 26 Tuhan menutup
perkara tuduhan ini dengan
ucapan bersih dari yang
dituduhkan yaitu bahwa sekalian
orang yang difitnah itu adalah
bersih belaka dari segala
tuduhan, mereka tidak bersalah
samasekali. Maka makna ayat
diatas juga sangat tepat bahwa
orang yang baik tidak akan
menyebarkan fitnah,fitnah hanya
keluar dari orang –orang yang
berhati dengki,kotor, tidak
bersih.Orang yang baik,dia akan
tetap bersih,karena kebersihan
hatinya

Penjelasan Para Ulama tentang Qs.An nur Ayat.26

Penjelasan An Nur 26 menurut
para ulama
jika dilihat dari konteks ayat ini,
ada dua penafsiran para ulama
terhadap ayat ini yaitu tentang
arti kata “wanita yang baik” dan
juga “ucapan yang
baik”Sehingga dapat juga
diartikan sebagai begini
Perkara-perkara (ucapan)yang
kotor adalah dari orang-orang
yang kotor, dan orang-orang
yang kotor adalah untuk
perkara-perkara yang kotor.
Sedang perkara (ucapan)yang
baik adalah dari orang baik-baik,
dan orang baik-baik
menimbulkan perkara yang baik
pula. Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan
oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rizki
yang mulia (surga). ”
Kata khabiitsat biasa dipakai
untuk makna ucapan yang kotor
(keji) ,juga kata thayyibaat dalam
Quran diartikan sebagai kalimat
yang baik.Begitupun pada ayat
ini berlaku bahwa kata khabiitsat
dan thayyibaat
Hakam ibnu Utaibah yang
menceritakan, bahwa ketika
orang-orang mempergunjingkan
perihal Siti Aisyah r.a. Rasulullan
saw. menyuruh seseorang
mendatangi Siti Aisyah r.a.
Utusan itu mengatakan, “Hai
Aisyah! Apakah yang sedang
dibicarakan oleh orang-orang
itu ?” Siti Aisyah r.a. menjawab,
“Aku tidak akan mengemukakan
suatu alasan pun hingga turun
alasanku dari langit ”. Maka Allah
menurunkan firman-Nya
sebanyak lima belas ayat di
dalam surah An Nur mengenai
diri Siti Aisyah r.a. Selanjutnya
Hakam ibnu Utaiban
membacakannya hingga sampai
dengan firman-Nya, “Ucapan-
ucapan yang keji adalah dari
orang-orang yang keji.. ” (Q.S. An
Nur,26). Hadis ini berpredikat
Mursal dan sanadnya sahih.
Ayat 26 inilah penutup dari ayat
wahyu membersihkan isteri Nabi,
Aisyah dari tuduhan keji itu. Di
dalam ayat ini diberikan
pedoman hidup bagi setiap
orang yang beriman. Tuduhan
keji adalah perbuatan yang amat
keji hanya akan timbul daripada
orang yang keji pula.Memang
orang-¬orang yang kotorlah
yang menimbulkan perbuatan
kotor. Adapun ucapan-ucapan
yang baik adalah keluar dari
orang-orang yang baik pula, dan
memang¬lah orang baik yang
sanggup menciptakan perkara
baik. Orang kotor tidak
menghasilkan yang bersih, dan
orang baik tidaklah akan
menghasilkan yang kotor,dan ini
berlaku secara umum
Di akhir ayat 26 Tuhan menutup
perkara tuduhan ini dengan
ucapan bersih dari yang
dituduhkan yaitu bahwa sekalian
orang yang difitnah itu adalah
bersih belaka dari segala
tuduhan, mereka tidak bersalah
samasekali. Maka makna ayat
diatas juga sangat tepat bahwa
orang yang baik tidak akan
menyebarkan fitnah,fitnah hanya
keluar dari orang –orang yang
berhati dengki,kotor, tidak
bersih.Orang yang baik,dia akan
tetap bersih,karena kebersihan
hatinya

Penjelasan Qs.An nur ayat.26 Yang baik hanya untuk yang baik

Yang Baik Hanya Untuk yang
baik?
Pembahasan kedua yaitu tentang
maksud ayat diatas yaitu “wanita
yang baik” dan “wanita yang
keji”.Dalam hal ini terjemahan
Depag menggunakan arti wanita
yang baik dan pemahaman ini
berangkat dari para ulama yang
menyatakan bahwa aisyah
menrupakan wanita yang baik-
baik,karena konteks ayat
tersebut turun satu paket yaitu
ayat 11-26 dengan ayat
sebelumny tentang seseorang
menuduh wanita yang baik-baik
berzina.Maka jika diartikan
begitu sesuai dengan
perntanyaan diatas
”Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji dan laki-
laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah
untuk wanita-wanita yang baik
(pula). Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan
oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rizki
yang mulia (surga). ”
Dalam kaidah ushul ditetapkan
bahwa kekhususan sesuatu tidak
dapat diterima dan ditetapkan
berdasarkan perkiraan,tetapi
harus didukung dengan
dalil.Dalam nash ini tidak ada dalil
tentang kekhususan ayat ini.Ayat
Quran bermakna umum,artinya
berlaku juga untuk umatnya
kecuali ada dalil tentang
kekhususan ( bukan berarti
kekhususan ini ada kata-kata
‘khusus’ contohnya pada
wajibnya hijab hanya khusus
pada istri nabi walalupun tidak
ada kata khusus,dan tidak ada
alasan untuk meniru-niru
kekhususan hijab bagi istri nabi).
Ayat ini bersifat umum, bahwa
wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji, begitu
juga sebaliknya. Namun yang
perlu dipahami adalah ayat ini
sebuah kondisi atau memang
anjuran,sebab para ulama
banyak mengemukakan
pendapat tentang hal ini.Syaikh
Muhammad Mutawalli as-
Sya ’rawi, ulama Mesir pernah
berkata: ada dua macam kalam
(kalimat sempurna) dalam
bahasa Arab. Pertama; Kalam
yang mengabarkan kondisi atau
suasana yang ada.
Kedua Kalam yang bermaksud
ingin menciptakan kondisi dan
suasana. Kalam seperti ini bisa
ditemukan dalam quran. Seperti
firman Allah QS. ali-Imran: 97:
Barang siapa yang memasukinya
(baitullah itu) menjadi amanlah
dia. Ayat itu kalau dipahami,
bahwa Allah sedang
mengabarkan kondisi dan
suasana kota Mekah sesuai
kenyataan yang ada, maka tentu
tidak akan terjadi hal-hal yang
bertolak belakang dengan
kondisi itu. Akan tetapi, kalau
ayat itu dipahami, sebagai
bentuk pengkondisian suasana,
maka Allah sesungguhnya
tengah menyuruh manusia,
untuk menciptakan kondisi aman
di kota Mekah. Kalaupun
kenyataan banyak terjadi, bahwa
kota Mekah kadang tidak aman,
maka hal itu artinya, manusia
tidak mengejewantahkan
perintah Allah.
Pemahaman yang sama juga bisa
ditelaah pada ayat ini; Wanita-
wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki
yang keji adalah buat wanita-
wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah
untuk laki-laki yang baik, dan
laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik (pula).
(QS. An-Nur: 26). Pada kenyataan
yang terjadi, ternyata, ada laki-
laki yang baik mendapat isteri
yang keji, begitupula sebaliknya.
Maka memahami ayat tersebut
sebagai sebuah perintah, untuk
menciptakan kondisi yang baik-
baik untuk yang baik-baik,
adalah sebuah keharusan. Kalau
tidak, maka kondisi terbalik
malah yang akan terjadi
Kalau kita bandingkan dengan
Annur ayat 3 yang mana kalimat
digunakan untuk umum
“ laki-laki yang berzina tidak
mengawini melainkan
perempuan yang berzina, atau
perempuan yang musyrik; dan
perempuan yang berzina tidak
dikawini melainkan oleh laki-laki
yang berzina atau laki-laki
musyrik”(An Nur ayat 3)
yg mana di ayat ini lebih tegas
mengandung “unsur perintah”
untuk mencari pasangan yg
sepadan. sehingga ayat 26 bisa
dimengerti sebagai sebuah
motivasi atau anjuran untuk
mengondisikan dan bukan
sebagai ketetapan bahwa yg
baik “otomatis” akan
mendapatkan pasangan yg baik.
Hal ini tentu memerlukan usaha
untuk memprbaiki diri lebih baik.
Ayat tersebut bukanlah
merupakan janji Allah kpd
manusia yg baik akan
ditakdirkan dgn pasangan yg
baik. Sebaliknya ayat tersebut
merupakan peringatan agar
umat islam memilih manusia yg
baik utk dijadikan pasangan
hidup.Oleh karena itu nabi
bersabda tentang anjuran
memilih pasangan yaitu lazimnya
dengan 4 pertimbangan,dan
terserah yang mana saja,namun
yang agamanya baik tentu
sangat dianjurkan, hal ini sesuai
dengan anuran surat Annur ayat
26

Bagaimana Seseorang yg baik tidak mendapatkan Wanita yg Baik?

Lalu bagaimana jika seseorang
yang baik mendapatkan wanita
yang tidak baik
Ayat diatas pemahaman saya
memang bukan janji Allah
tentang otomatisnya orang yang
baik akan mendapat pasangan
yang baik,Ayat tersebut secara
umum memberitahukan kita
bahwa orang –orang yang baik
akan mendapat pasangan yang
baik juga,dengan berusaha
mengondiskan diri menjadi baik
dan juga berikhtiar mencari
pasangan yang baik.Namun baik
dalam hal ini,pun secara logika
dapat diartikan bermacam-
macam.Secara khusus Allah
membuat perumpamaan
bagaimana seorang yang baik
mendapatkan pasangan yang
tidak baik.Hal ini dapat kita lihat
pada kisah nabi Nuh, Nabi
Luth,dan Juga Firaun.
“Allah membuat istri nabi nuh
dan istri nabi luth sebagai
perumpamaan bagi orang-orang
kafir. keduanya berada di bawah
ikatan pernikahan dengan dua
orang hamba yang shalih di
antara hamba-hamba kami. lalu
kedua istri itu berkhianat kepada
kedua suami mereka, maka
kedua suami mereka itu tidak
dapat membantu mereka
sedikitpun dari siksa Allah, dan
dikatakan kepada keduanya:
‘masuklah kalian berdua ke
dalam neraka bersama orang-
orang yang masuk neraka ’.” (at-
tahrim: 10)
Allah menakdirkan istri kedua
nabi yang mulia ini justru tidak
menerima dakwah suami
mereka. padahal keduanya
adalah belahan jiwa yang saling
melengkapi, saling menemani
dan mendampingi. kedua istri ini
mengkhianati suami mereka
dalam perkara agama, karena
keduanya beragama dengan
selain agama yang diserukan
oleh suami mereka. keduanya
enggan menerima ajakan kepada
keimanan bahkan tidak
membenarkan risalah yang
dibawa suami mereka.
Lalu diayat selanjutnya kita
temukan perumpamaan lain
tentang suami yang tidak baik
(fasik) dengan instri solehah
salah satunya adalah asiyah binti
mazahim, istri fir ’aun. walau
berada dalam kekuasaan fir’aun,
asiyah mampu menjaga akidah
dan harga dirinya sebagai
seorang muslimah. asiyah lebih
memilih istana di surga daripada
istana di dunia yang dijanjikan
fir ’aun. Allah mengabadikan
doanya, dan Allah menjadikan
perempuan fir ’aun teladan bagi
orang-orang beriman, dan ia
berdoa, ya Tuhanku, bangunlah
untukku sebuah rumah di sisi-Mu
dalam surga dan selamatkanlah
aku dari fir ’aun dan
perbuatannya dan selamatkan
aku dari kaum yang zalim (at
tahriim [66]: 11)
Bagi kita mungkin Firaun
merupakan pria yang
jahat,namun kisah Asiyah ini di
Abadikan dalam Quran.Allah
menjadikan Firaun merupakan
pribadi yang “baik” bahkan
sangat “baik” bagi Asiyah karena
secara logis membuat Asiyah
menjadi wanita yang ditinggikan
derajatnya.Ia tetap dapat
menjaga akidahnya,dari fitnah
besar suaminya.Dalam hal ini
baik tidak baik terlihat
sekali,tentang suami soleh atau
zalim , yaitu dalam hal Aqidah.
Kesimpulan
“..Boleh jadi kamu tidak
menyenangi sesuatu, padahal ia
baik bagi kamu, dan boleh jadi
kamu menyukai sesuatu padahal
itu tidak baik bagi kamu. Allah
Mengetahui sedang kamu tidak
mengetahui. ” (Al-Baqarah:ayat
216)
“Dan di langit terdapat (sebab-
sebab) rezekimu dan apa yang di
janjikan kepadamu. ” (Adz-
Dzariyat:ayat 22)
Dalam Surat Annur Allah
menetapkan bahwa Perempuan
yang baik untuk laki-laki yang
baik, dan rasul menetapkan
beberapa panduan untuk kita
pilih
“Dinikahi seseorang itu karena
empat perkara, harta, kecantikan,
keturunan dan agama. Maka
pilihlah yang beragama, niscaya
beruntung diri. ”
“Pesan Abu Hurairah r.a. kepada
puterinya: Pilihlah bakal suamimu
orang yang bertaqwa karena jika
dia suka kepadamu, dia
mendoakan kebaikan untukmu.
Jika dia tidak menyenangimu, dia
tidak akan berlaku zalim
terhadapmu
Proses mendidik hati bukan
mudah seperti menenun kain
yang indah, tapi perlukan
kesabaran dan
mujahadah.Ucapan yang baik
akan keluar dari orang yang
baik,ucapan yang keji akan
keluar dari orang yang keji
pula.Untuk mendapatkan sesuatu
yang baik memang kita harus
memperbaiki diri lebih baik.
Tugas seorang hamba ke atas
dirinya hanya membaiki dirinya
sendiri tanpa terlalu memikirkan
pengakhiran mendapat yang
soleh ataupun sebaliknya. Kerana
Allah tidak akan menzalimi orang
yang sentiasa berusaha ke arah
kebaikan.
“Sesungguhya Kami yang
menurunkan Ad-dzikr,dan Kami
pula yang menjaganya ”.Akan ada
para penghafal-pengahafal
Quran,ulama-ulama yang akan
menjaga Quran sampai akhir
zaman,dan ayat ini akan tetap
berlaku sampai kahir zaman
”Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji dan laki-
laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah
untuk wanita-wanita yang baik
(pula).
Akan ada pula orang-orang yang
berusaha memperbaiki
diri,mebuat diri menjadi lebih
baik dan mendapat pasangan
yang baik,dan ayat ini tetap akan
berlaku selama-lamanya
Wallahu Alam
Referensi: Tafsir Al
Azhar ,Hamka,Annur ayat 26
Tafsir Al Quranul Azhim,Ibnu
Katsir
Saatnya Menikah,Muttawali
Syarawi