Laman

Kamis, 24 Februari 2011

Prasasti - Winda

Oo.. Winda kau sungguh mempesona
Senyummu sederhana tak dapat ku lupa

Hidup serasa bagaikan di Surga
Bila ku berada dekat di sampingnya

Karena senyumanmu
Karena kemanjaanmu
Kujatuh cinta kepadamu

Hasrat ini ingin melihat senyumnya
Hasrat ini ingin memeluk dirinya
Hasrat ini ingin memilikinya
Mungkinkah ku mendapatkannya.

Cinta ini bukanlah cinta biasa
Cinta ini cinta yang ku damba
Takkan pernah ku lepaskan dirimu
Hingga ajal menjemputku . .

Cintailah aku sepenuh hatimu
Seperti aku mencintai dirimu
Kan ku tunggu
Hingga engkau mau
Tuk menjadi kekasihku.

Malam itu

renungkan wahai pujangga-
malam yang menggebu
malam yang kobar
malam yang mennyusuri sungai-sungai kering

hanya burung hantu berkukuk
pada ranting rapuh
rembulan mencipta bayangan
penuh pada danau, danau
yang mati

Mungkin, angsa-angsa itu
menggelepar
bersoang-soang
setengah mati
seperti arwah gentayangan
menyusuri bangkai kota

Dhuh!
malam sungguh rapuh
melepuh
seperti kaki bidadari yang
lumpuh

karena terlalu lama
menggunakan sayapnya
hinggap pada bintang
saat malam yang tak berujung
seperti hari yang terus berlalu,
jenuh

adakah sesuatu yang lain?
sesuatu yang mesti
dipertimbangkan
mungkin kita mesti bersemedi
dalam malam
melukiskan gelap
dengan renda bayang-bayang