Laman

Saturday, February 12, 2011

Larangan Merayakan Hari Valentine

Berdasarkan dalil-dalil dari Al
Kitab dan As Sunah, para
pendahulu umat sepakat
menyatakan bahwa hari raya
dalam islam hanya ada dua;
Idul Fitri dan Idul Adha selain
itu semua hari raya yang
berkaitan dengan seseorang,
kelompok, peristiwa atau
lainnya adalah bid ’ah, kaum
muslimin tidak boleh
melakukannya, mengakuinya,
menampakkan kegembiraan
karenanya dan membantu
terselenggaranya karena
perbuatan ini merupakan
perbuatan yang melanggar
batas-batas Allah, sehingga
dengan begitu pelakunya
berarti telah berbuat aniaya
terhadap dirinya sendiri. Jika
hari raya itu merupakan simbol
orang-orang kafir, maka ini
merupakan dosa lainnya,
karena dengan begitu berarti
telah ber-tasyabbuh dengan
mereka dan loyal terhadap
mereka di dalam kitab-Nya
yang mulia dan telah
diriwayatkan secara pasti dari
Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam
bahwa beliau bersabda,
“Barangsiapa menyerupai
suatu kaum berarti ia termasuk
golongan mereka. ” (HR. Abu
Daud)
Valentine’s Day termasuk jenis
yang disebutkan tadi, karena
merupakan hari raya Nasrani,
maka seorang muslim yang
beriman kepada Allah dan Hari
Akhir tidak boleh
melakukannya, mengakuinya
atau ikut mengucapkan
selamat bahkan seharusnya
meninggalkannya dan
menjauhinya sebagai sikap
taat terhadap Allah dan Rosul-
Nya serta untuk membantu
penyelenggaraan hari raya
tersebut dan hari raya lainnya
yang diharamkan baik itu
berupa iklan dan sebagainya,
karena semua ini termasuk
tolong menolong dalam
perbuatan dosa dan
permusuhan serta maksiat
terhadap Allah dan Rosul-Nya
sementara Allah Subhanahu
wata ’alla telah berfirman:
“Dan tolong menolonglah
kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan taqwa dan
jangan tolong menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran.
Dan bertaqwalah kamu kepada
Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksanya.” (QS. Al Ma’idah:
2)
Dari itu hendaknya setiap
muslim berpegangteguh
dengan Al kitab dan As sunah
dalam semua kondisi lebih-
lebih pada saat-saat terjadinya
fitnah dan banyaknya
kerusakan. Hendaknya pula ia
benar-benar waspada agar
tidak terjerumus ke dalam
kesesatan orang-orang yang
dimurkai, orang-orang yang
sesat dan orang-orang yang
fasik yang tidak mengajarkan
kehormatan dari Allah dan
tidak menghormati Islam. Dan
hendaknya seorang muslim
kembali kepada Allah dengan
memohon petunjuk-Nya dan
keteguhan didalam petunjuk-
Nya. Sesungguhnya tidak ada
yang dapat memberi petunjuk
selain Allah dan tidak ada yang
dapat meneguhkan dalam
petunjuk-Nya selain Allah
Subhanahu Wata’alla. Hanya
Allah-lah yang kuasa memberi
petunjuk.